Apr 6

Assallamualaikum wr.wb 🙂

Pada kesempatan kali ini saya akan  berbagi sedikit ilmu yang saya dapat di Kampus UPI jurusan Ilmu Komputer yaitu mengenai Data Base dan kawan-kawannya.

  1. DDL

DDL (Data Definition Language) merupakan kumpulan perintah SQL yang digunakan untuk membuat, mengubah dan menghapus struktur dan definisi metadata dari objek-objek database. Seperti definisi yang telah dijelaskan di atas, DDL adalah kumpulan perintah SQL yang digunakan untuk membuat (create), mengubah (alter) dan menghapus  (drop) struktur dan definisi tipe data dari objek-objek database.

 

Secara umum, DDL yang digunakan meliputi perintah sebagai berikut:

– CREATE ; digunakan untuk membuat objek yang baru;

– ALTER   ; digunakan untuk mengubah objek yang sudah ada;

– DROP     ; digunakan untuk menghapus objek yang sudah ada.

Objek-objek database pada yang dimaksud – pada MySQL – adalah sebagai berikut :

  • Database
  • Table
  • View
  • Index
  • Procedure (Stored Procedure)
  • Function
  • Trigger
  • CREATE

*Sintaks membuat database :

CREATE DATABASE nama_database;

Contoh :

CREATE DATABASE mahasiswa;

*Sintaks membuat table :

[ CREATE TABLE nama_tabel (nama_field ke-1 tipe_data ( lebar_field ), ……, nama_field ken tipe_data ( lebar_field ) ) ;]

Contoh :

CREATE TABLE mahasiswa(

nim varchar(10) PRIMARY KEY,

nama varchar(25) NOT NULL,

jurusan varchar(30) NOT NULL

);

  • ALTER

Digunakan untuk mengedit tabel yang telah ada. dalam pengeditan tabel ini ada beberapa kemungkinan, diantaranya adalah mengubah dalam artian memodifikasi salah satu atau beberapa field pada tabel tersebut atau dalam artian menambah satu atau beberapa field pada tabel tersebut.

*Sintaks mengubah nama Tabel

ALTER TABLE nama_tabel RENAME TO nama_tabel;

Contoh :

ALTER TABLE mahasiswa RENAME TO mhs;

*Sintaks menambah kolom

ALTER TABLE nama_tabel ADD COLUMN nama_tabel;

Contoh :

ALTER TABLE mahasiswa ADD COLUMN (usia varchar(10) not null);

*Sintaks mengganti kolom

ALTER TABLE nama_tabel MODIFY nama_tabel;

Contoh :

ALTER TABLE mahasiswa MODIFY usia int;

*Sintaks menghapus kolom

ALTER TABLE nama_tabel DROP COLUMN nama_tabel;

Contoh :

ALTER TABLE mahasiswa DROP COLUMN usia;

  • DROP

Terkadang anda diharuskan menghapus sebuah tabel yang telah anda buat, hal ini mungkin disebabkan karena tabel yang anda buat salah, atau tidak diperlukan. untuk itu digunakan perintah Drop.

 

*Sintaks menghapus table

DROP TABLE nama_tabel;

Contoh:

DROP TABLE mahasiswa;

*Sintaks menghapus database

DROP DATABASE nama_database;

Contoh :

DROP DATABASE kuliah;

Keterangan :
perintah drop tabel ini akan berhasil jika tabel yang dihapus adalah tabel yang tidak ada relasinya ( tabel yang berdiri sendiri ). juga akan berhasil jika yang anda hapus adalah tabel relasi ( tabel yang mengacu pada tabel lain ).

  1. ER-D

ER-Diagram didefinisikan sebagai penerjemahan semesta data yang ada di ‘dunia nyata’ dengan memanfaatkan sejumlah perangkat konseptual menjadi sejumlah diagram data. Sederhananya, ER-D adalah suatu cara memodelkan suatu data di tingkat konseptual dalam perancangan basis data. Model ini juga merupakan alat modelling data yang populer dan banyak digunakan oleh para desainer basis data.

Adapun komponen ER-Diagram adalah sebagai berikut:

  1. Entitas

Entitas didefinisikan sebagai individu yang mewakili sesuatu yang nyata dan dapat dibedakan dari sesuatu yang lain. Sederhananya, entitas dikenal sebagai suatu objek yang dapat dibedakan dengan objek lainnya di dalam dunia nyata. Entitas di dalam ER-D direpresentasikan oleh bangun datar persegi panjang. Adapun beberapa contoh entitas adalah sebagai berikut: siswa, pegawai, guru, mobil, dan seterusnya.

 

  1. Atribut

Atribut merupakan karakteristik dari entity atau relationship yang menyediakan penjelasan detail tentang entity atau relationship tersebut. Atribut di dalam ER-D direpresentasikan dalam bentuk bangun datar oval.

Adapun beberapa contoh atribut adalah sebagai berikut:

nomor_induk_siswa, nama, alamat, dan seterusnya.

 

  1. Relasi

Relasi didefinisikan sebagai hubungan diantara sejumlah entitas yang berasal dari himpunan entitas yang berbeda. Sederhananya, relasi dikenal sebagai hubungan yang terjadi antara satu atau lebih entitas. Relasi pada ER-D direpresentasikan dalam bentuk bangun datar belah ketupat. Adapun beberapa contoh relasi adalah sebagai berikut: mengontrak, transaksi, dan mengepalai.

 

  1. Kardinalitas

Kardinalitas relasi menunjukkan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi dengan entitas pada himpunan entitas lain. Adapun kardinalitas yang terjadi diantara dua himpunan entitas adalah sebagai berikut:

  1. One to One

Kardinalitas ini terjadi apabila entitas (aku) berhubungan dengan paling banyak satu entitas (kamu), begitu pun sebaliknya. Sederhananya, relasi tabel one-to-one merupakan relasi 2 tabel dengan primary key (pk) dan foreign key (fk) dengan meletakkan kolom one-to-one ke tabel baru. Sebenarnya relasi ini jarang digunakan.

Adapun beberapa alasan relasi ini digunakan adalah sebagai berikut:

  • Memindahkan data ke tabel lain memungkinkan untuk membuat query yang lebih cepat;
  • Mengisolasi dan menghindarkan nilai NULL pada tabel utama;
  • Membuat sebagian data susah diakses.

Di sini, mari menggunakan entitas kepala_sekolah, sekolah, dan relasi mengepalai.

Mari kita lihat perancangannya:

 

ER-D tersebut jika ditransformasikan ke tabel adalah sebagai berikut:

kepala_sekolah : nip, nama, alamat

sekolah : npsn, nama, alamat

  1. One to Many dan Many to One

Kardinalitas One to Many terjadi apabila entitas (aku) berhubungan dengan banyak entitas (kamu, dia_1, dia_n), tetapi tidak berlaku sebaliknya, dalam artian entitas (kamu, dia_1, dia_n) hanya berhubungan dengan satu entitas (aku). Kardinalitas Many to One terjadi apabila entitas (saya_1, saya_2, saya_n) berhubungan dengan satu entitas (kamu), tetapi tidak berlaku sebaliknya, dala artian entitas (kamu) berhubungan dengan banyak entitas (saya_1, saya_2, saya_n).

Relasi One to Many terjadi apabila sebuah data yang ada pada tabel pertama memiliki beberapa data yang sama pada tabel kedua. Pada relasi ini hanya diizinkan sebuah data pada tabel pertama dan tabel kedua boleh memiliki beberapa data yang sama dengan tabel pertama. Relasi Many to One berlaku sebaliknya. Mari kita simak perancangan berikut ini dengan menggunakan entitas ibu, anak, dan relasi memiliki.

 

ER-D tersebut jika ditransformasikan ke tabel adalah sebagai berikut:

ibu : nik_ibu, nama, alamat

anak : nik_anak, nama, jenis_kelamin, alamat, nik_ibu

  1. Many to many

Kardinalitas Many to Many terjadi apabila banyak entitas (saya, dia_1, dia_n) berhubungan dengan banyak entitas (kamu, kamuu, kamuuu). Relasi Many to Many terjadi apabila sebuah data yang ada pada tabel pertama memiliki beberapa data yang sama pada table kedua, dan sebuah data yang ada pada tabel kedua juga memiliki beberapa data yang sama pada tabel pertama. Pada relasi ini, table pertama dan kedua diizinkan memiliki beberapa data yang sama dengan kedua table tersebut. Mari kita simak perancangan berikut yang melibakan entitas dosen, mahasiswa, dan relasi mengajar.

 

ER-D tersebut jika ditransformasikan ke tabel adalah sebagai berikut:

dosen : nip, nama, tgl_lahir, jenis_kelamin, alamat

mahasiswa : nim, nama, tgl_lahir, jenis_kelamin, alamat

mengajar : id_mengajar, nip, nimul

Mar 18
Multimeter
icon1 febyana | icon2 Uncategorized | icon4 03 18th, 2015| icon3No Comments »

Apa itu multimeter ?

Multimeter atau multitester adalah alat pengukur listrik yang sering dikenal sebagai VOM (Volt-Ohm meter) yang dapat mengukur tegangan (voltmeter), hambatan (ohm-meter), maupun arus (amperemeter). Ada dua kategori multimeter: multimeter digital atau DMM (digital multi-meter)(untuk yang baru dan lebih akurat hasil pengukurannya), dan multimeter analog. Masing-masing kategori dapat mengukur listrik AC, maupun listrik DC.

A. Ada dua jenis Multimeter, yaitu :

a. Mulimeter Digital

digital-multimeter-1829923

 

Multimeter digital memiliki akurasi yang tinggi, dan kegunaan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan multimeter analog. Yaitu memiliki tambahan-tambahan satuan yang lebih teliti, dan juga opsi pengukuran yang lebih banyak, tidak terbatas pada ampere, volt, dan ohm saja. Multimeter digital biasanya dipakai pada penelitian atau kerja-kerja mengukur yang memerlukan kecermatan tinggi, tetapi sekarang ini banyak juga bengkel-bengkel komputer dan service center yang memakai multimeter digital. Kekurangannya adalah susah untuk memonitor tegangan yang tidak stabil. Jadi bila melakukan pengukuran tegangan yang bergerak naik-turun, sebaiknya menggunakan multimeter analog.

 

b. Multimeter Analog

120285_LB_00_FB.EPS_1000

 

Multimeter analog lebih banyak dipakai untuk kegunaan sehari-hari, seperti para tukang servis TV atau komputer kebanyakan menggunakan jenis yang analog ini. Kelebihannya adalah mudah dalam pembacaannya dengan tampilan yang lebih simple. Sedangkan kekurangannya adalah akurasinya rendah, jadi untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi sebaiknya menggunakan multimeter digital. Namun multimeter jenis ini lebih mudah digunakan sehingga banyak para teknisi yang familiar menggunakan tester analog daripada digital.

 

Bagian-bagian pada Multimeter Analog :

a. Papan Skala: digunakan untuk membaca hasil pengukuran. Pada papan skala terdapat skala-skala; tahanan/resistansi (resistance) dalam satuan Ohm (?), tegangan (ACV dan DCV), kuat arus (DCmA), dan skala-skala lainnya.
b. Selektor: digunakan untuk menentukan posisi kerja multimeter, dan batas ukur (range). Jika digunakan untuk mengukur gambatan, saklar ditempatkan pada posisi Ohm, demikian juga jika digunakan untuk mengukur tegangan (ACV-DCV), dan kuat arus (mA-mA). Satu hal yang perlu diingat, dalam mengukur tegangan listrik, posisi saklar harus berada pada batas ukur yang lebih tinggi dari tegangan yang akan diukur. Misal, tegangan yang akan diukur 220 ACV, saklar harus berada pada posisi batas ukur 250 ACV. Demikian juga jika hendak mengukur DCV.
c. Sekrup pengatur posisi jarum (preset): digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol (sebelah kiri papan skala).
d. Tombol Pengatur Jarum Pada Posisi Nol (Zero Adjustment): digunakan untuk menera jarum penunjuk pada angka nol sebelum multimeter digunakan untuk mengukur nilai resistansi. Dalam praktek, kedua ujung kabel penyidik (probes) dipertemukan, tombol diputar untuk memosisikan jarum pada angka nol.
e. Lubang Kabel Penyidik: tempat untuk menghubungkan kabel penyidik dengan multimeter. Ditandai dengan tanda (+)  yang merah dan (-) yang hitam. Pada multimeter yang lebih lengkap terdapat juga lubang untuk mengukur hfe transistor (penguatan arus searah/DCmA oleh transistor berdasarkan fungsi dan jenisnya), dan lubang untuk mengukur kapasitas kapasitor.
f.Batas Ukur (Range) Kuat Arus: biasanya terdiri dari angka-angka; 0,25 – 25 – 500 mA. Untuk batas ukur (range) 0,25, kuat arus yang dapat diukur berkisar dari 0 – 0,25 mA. Untuk batas ukur (range) 25, kuat arus yang dapat diukur berkisar dari 0 – 25 mA. Untuk batas ukur (range) 500, kuat arus yang dapat diukur berkisar dari 0 – 500 mA.
g. Batas Ukur (range) Tegangan (ACV-DCV): terdiri dari angka; 10 – 50 – 250 – 500 – 1000 ACV/DCV. Batas ukur (range) 10, berarti tegangan maksimal yang dapat diukur adalah 10 Volt. Batas ukur (range) 50, berarti tegangan maksimal yang dapat diukur adalah 50 Volt, demikian seterusnya.
h. Batas Ukur (Range) Ohm: terdiri dari angka; x1, x10 dan kilo Ohm (kW). Untuk batas ukur (range) x1, semua hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada papan skala (pada satuan W). Untuk batas ukur (range) x10, semua hasil pengukuran dibaca pada papan skala dan dikali dengan 10 (pada satuan W). Untuk batas ukur (range) kilo Ohm (kW), semua hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada papan skala (pada satuan kW), Untuk batas ukur (range) x10k (10kW), semua hasil pengukuran dibaca pada papan skala dan dikali dengan 10kW.

 


B. Pengujian dioda dengan multimeter

Cara yang digunakan untuk berbagai meter berbeda sehingga pelatihannya dipisahkan:

1. Pengujian dioda dengan multimeter DIGITAL

  • Multimeter Digital mempunyai kekhususan untuk mengukur dioda , biasanya diberi penandaan simbol dioda.
  • Hubungkan ujung merah (+) ke anode dan hitam (-) ke cathode. Dioda seharusnya sambung/terhubung dan meter akan menampilkan nilai (biasanya tegangan yang melintasi dioda dalam mV, 1000mV = 1V).
  • Pembalikan sambungan. Pada saat ini dioda seharusnya tidak sambung sehingga meter menampilkan “off the scale” (biasanya kosong atau sebuah 1 pada sisi kiri layar).

2. Pengujian sebuah dioda dengan multimeter ANALOG

  • Letakan multimeter analog kejangkah ukur resistansi rendah seperti × 10.
  • secara dasar perlu dicatat polaritas ujung ukur multimeter analog adalah kebalikan dari jangkah ukur resistansi, sehingga ujung hitam adalah positive (+) dan ujung merah adalah negative (-)! Ini tidak menguntungkan, tetapi begitulah meter bekerjanya.
  • Hubungkan ujung (+) hitam (+) ke anode dan warna merah (-) ke cathode. Dioda harus menghatar/tersambung meter menunjukan resistansi rendah (nilai pastinya tidak berhubungan).
  • Balik sambungan ini. sebuah diode tidak tersambung dengan cara ini sehingga meter menunjukan resistansi tak terhingga (infinite) (berada pada sisi kiri skala).

C. Pengujian transistor dengan multimeter

Langkah-langkah pengukuran transistor menggunakan multimeter analog adalah sebagai berikut :

  1. Masukkan kabel penyidik (probes) warna merah ke lubang kabel penyidik yang bertanda positip (+), kabel penyidik (probes) warna hitam ke lubang kabel penyidik yang bertanda negatip (-).
  2. Jika diperlukan, menggunakan sekrup pengatur posisi jarum (preset), atur posisi jarum pada papan skala sehingga berada pada posisi angka nol.
  3. Atur saklar jangkauan ukur pada posisi Ω.
  4. Batas ukur (range) pada posisi x1, x10, atau kΩ sesuai kebutuhan.
  5. Ujung dari kedua kabel penyidik (probes) dipertemukan.
  6. Menggunakan tombol pengatur posisi jarum pada angka nol (zero adjustment), atur posisi jarum pada papan skala hingga menunjukkan angka nol.
  7. Untuk transistor tipe PNP : letakkan ujung kabel penyidik (probes) warna merah (+) pada kaki Basis, ujung kabel penyidik (probes) warna hitam (-) diletakkan pada kaki Emitor.
  8. Jarum pada papan skala bergerak ke kanan menunjuk angka (misalnya 16,5Ω), artinya : transistor masih dapat digunakan.
  9. Letakkan ujung kabel penyidik (probes) warna merah (+) pada kaki Basis, ujung kabel penyidik (probes) warna hitam (-) diletakkan pada kaki Kolektor.
  10. Untuk transistor tipe NPN : letakkan ujung kabel penyidik (probes) warna hitam (-) pada kaki Basis, ujung kabel penyidik (probes) warna merah (+) diletakkan pada kaki Emitor.
  11. Jarum pada papan skala bergerak ke kanan menunjuk angka (misalnya 21Ω), artinya : transistor masih dapat digunakan.

D. Pengkuran resistor dengan multimeter

Langkah-langkah pengukuran resistor menggunakan multimeter analog adalah sebagai berikut :

    1. Masukkan kabel penyidik (probes) warna merah ke lubang kabel penyidik yang bertanda positip (+), kabel penyidik (probes) warna hitam ke lubang kabel penyidik yang bertanda negatip (-).
    2. Jika diperlukan, menggunakan sekrup pengatur posisi jarum (preset), atur posisi jarum pada papan skala sehingga berada pada posisi angka nol.
    3. Atur saklar jangkauan ukur pada posisi Ω.
    4. Batas ukur (range) pada posisi x1, x10, atau kΩ sesuai kebutuhan.
    5. Ujung dari kedua kabel penyidik (probes) dipertemukan.
    6. Menggunakan tombol pengatur posisi jarum pada angka nol (zero adjustment), atur posisi jarum pada papan skala hingga menunjukkan angka nol.
    7. Kemudian menghubungkan probe multimeter masing-masing pada kedua kaki resistor tersebut.
    8. Letakkan ujung kabel penyidik (probes) warna hitam (-) , ujung kabel penyidik (probes) warna merah (+), letakkan pada ujung manapun.
    9.  Perhatikan jarum menunjukan angka berapa.
    10. Contoh-cotoh Perhitungan Resistor :
      a. Bila jarum menunjukkan angka 100 pada papan skala dan saklar penyetelan ditunjukkan pada 1 x berarti –> 1 x 100, maka ukurannya adalah 100 Ohm
      b. Bila jarum menunjukkan angka 100 pada papan skala dan saklar penyetelan ditunjukkan pada 10 x berarti –> 10 x 100, maka ukurannya adalah 1000 Ohm
      c. Bila jarum menunjukkan angka 100 pada papan skala dan saklar penyetelan ditunjukkan pada 1K berarti –> 1000 x 100, maka ukurannya adalah 100000 Ohm atau 100 KOhm

 


Sekian… Semoga dapat bermanfaat 🙂

Mar 18

” Rangkaian Dasar Elektronika “

        Komponen elektronika adalah sebuah alat berupa benda yang menjadi bagian pendukung suatu rangkaian elektronik yang dapat bekerja sesuai dengan kegunaannya. Terdapat beberapa macam, berdasarkan cara dan sistem kerjanya komponen elektronika dibagi manjadi dua macam yaitu komponen pasif dan komponen aktif.Kedua jenis komponen ini hampir selalu digunakan bersama – sama, kecuali dalam rangkaian – rangkaian pasif yang hanya memakai komponen – komponen pasif saja.

Komponen aktif ialah jenis komponen elektronika yang memerlukan arus listrik agar dapat bekerja dalam rangkaian elektronika yang dapat menguatkan dan menyearahkan sinyal listrik, serta dapat mengubah energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

1. Transistor: komponen elektronika yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai tiga elektroda (triode) yaitu dasar (basis), pengumpul (kolektor) dan pemancar (emitor).
2. Dioda: adalah komponen elektronika dengan dua elektrode yang dapat dipakai untuk menyearahkan sinyal listrik. Dioda sebagai salah satu komponen aktif sangat popular digunakan dalam rangkaian elektronika, karena bentuknya sederhana dan penggunaannya sangat luas.

Komponen pasif adalah jenis komponen elektronika yang bekerja tanpa memerlukan arus listrik sehingga tidak bisa menguatkan dan menyearahkan sinyal listrik serta tidak dapat mengubah suatu energi ke bentuk lainnya.Komponen pasif ini, walaupun tidak diberi arus atau tegangan listrik tetapi dapat bekerja dan beroperasi dengan baik.

1. Resistor: komponen elektronika yang berfungsi membatasi atau menghambat arus listrik. Karena tidak dapat menguatkan sinyal maka resistor termasuk komponen pasif.
Jenis Resistor :
a) Resistor Tetap
1) Resistor Kawat
2) Resistor Batang Karbon (Arang)
3) Resistor Keramik atau Porselin
4) Resistor Film Karbon
5) Resistor Film Metal
b) Resistor Variabel
1) Potensiometer
2) Potensiometer Geser
3) Trimpot
4) NTC dan PTC
5) LDR (Light Dependent Resistor)

Cara Menghitung Nilai Resistansi Resistor

Kode-Warna-ResistorUrutan warna di atas bisa disingkat dengan :

HI-CO-ME-O-KU-HI-BI-U-A-P-E-P
Hijau-Coklat-Merah-Oranye-Kuning-Hijau-Biru-Ungu-Abu-Putih-Emas-Putih

Contoh :
Ada sebuah resistor yang memliki 4 pita warna dengan satu pita terakhir memiliki jarak terpisah berwarna kuning, abu-abu, merah, dan emas. Hitung nilai resistansinya!
Pita pertama kuning: (hi-co-me-o-ku) => 4
Pita kedua abu abu: (hi-co-me-o-ku-hi-bi-u-a) => 8 Pita
keempat merah: (hi-co-me) => x 100
Pita kelima emas: (hi-co-me-o-ku-hi-bi-u-a-p-e) => toleransi ±5 %
…jadi nilai resistansinnya sebesar 4800 ohm atau 4K8Ω dengan toleransi ±5 %

2. Kapasitor: komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan arus listrik di dalam medan listrik sampai batas waktu tertentu dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan arus listrik. Kapasitor merupakan komponen elektronika yang berfungsi untuk menyimpan medan listrik, dapat juga berfungsi untuk memblokir arus DC dan meneruskan arus AC. Karena tidak dapat menguatkan, menyearahkan dan mengubah suatu energi ke bentuk lainnya, maka kapasitor termasuk komponen pasif.

Jenis-jenis Kapasitor diantaranya adalah :
a. Kapasitor yang nilainya Tetap dan tidak ber-polaritas. Jika didasarkan         pada bahan pembuatannya maka Kapasitor yang nilainya tetap terdiri dari Kapasitor Kertas, Kapasitor Mika, Kapasitor Polyster dan Kapasitor Keramik.
b. Kapasitor yang nilainya Tetap tetapi memiliki Polaritas Positif dan Negatif, Kapasitor tersebut adalah Kapasitor Elektrolit atau Electrolyte Condensator (ELCO) dan Kapasitor Tantalum
c. Kapasitor yang nilainya dapat diatur, Kapasitor jenis ini sering disebut dengan Variable Capasitor.

3. Induktor: salah satu komponen pasif elektronika yang tersusun dari lilitan kawat dan bisa menghasilkan medan magnet bila dialiri arus listrik dan sebaliknya bisa menghasilkan listrik bila diberi medan magnet.

Jenis-jenis Induktor diantaranya adalah :
1. Induktor yang nilainya tetap.
2. Induktor yang nilainya dapat diatur atau sering disebut dengan Coil Variable.

Read the rest of this entry »

Mar 9
Hello world!
icon1 febyana | icon2 Uncategorized | icon4 03 9th, 2015| icon31 Comment »

Welcome to Blog Civitas UPI. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!